Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Potensi Rare Eart (Tanah Jarang) Indonesia, Jadi Peluang Memajukan Industri Teknologi Elektronik

Assalamu'allaikum....

rizensia - Rare earth element (REE) atau biasa disebut elemen 'tanah jarang' menjadi sorotan terbaru karena menjadi potensi mineral tambang baru bagi Indonesia. Logam ini adalah elemen yang memiliki banyak fungsi dan potensi untuk berbagai industri hilir, seperti microchip, barang elektronik, dan motor listrik. Bahkan pengembangan penggunaan material ini digunakan pada magnet, katalis, hingga baterai.

Rare Earth. Foto via Sindonews

Produsen utama dan terbesar dari elemen tanah jarang ini adalah negara China, dimana negara tirai bambu tersebut memiliki cadangan Rare eart sebesar 44 juta ton, kemudian dilanjutkan oleh Brasil dan Vietnam 22 juta ton. Sementara Rusia dan AS masing-masing memiliki cadangan 12 dan 1,4 juta ton.


Di Indonesia sendiri, potensi dari Rare eart element masih dalam proses penelitian dan pengembangan, bahkan berita terakhir Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan tengah mencari investor untuk bekerjasama dalam mengelola elemen mineral ini.

Rare Eart Elemen, Jadi Peluang Memajukan Industri Teknologi Indonesia

Banyak peneliti yang menyatakan bahwa Rare Earth Elemen adalah material masa depan. Ini dikarenakan rare earth material yang memicu lahirnya teknologi baru yang masih dan akan terus berkembang seperti LCD, magnet, baterai hybrid dan lainnya.

Tentu dengan pemanfaatan seperti itu, maka mengakibatkan permintaan akan logam tanah jarang ini tiap tahun terus meningkat. Karena perkembangan serta penggunaan teknologi dan alat elektronik yang begitu besar. Ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk mendorong terbangunnya industri teknologi elektronik yang maju kedepannya.

China Menjadi Raja Industri Elektronik, Karena Memiliki Rare Earth Yang Besar

Kita mengambil contoh negara China yang mana pada tahun 2019 mereka menjadi pemasok 95% Rare Earth dunia, ini pula yang mengatarkan mereka menjadi produsen barang elektronik.

Bahkan negara industri seperti Jepang dan Amerika Serikat begitu bergantung kepada China sebagai produsen Rare earth elemen. Ketika terjadi perang dagang antar Amerika Serikat dan China, negara tirai bambu tersebut melakukan serangan balik dengan melakukan pelarangan ekspor rare earth ke AS.

Ini membuat Industri militer AS terancam lumpuh, seperti dikutip dari Sindonews menurut perusahaan riset Adamas Intelligence, AS bergantung pada China untuk kebutuhan sekitar 80 persen dari pasokan elemen rare earth-nya. Angka itu merupakan data kebutuhan tahun 2014 hingga 2017.

Elemen rare earth tak hanya dibutuhkan untuk industri militer, tapi juga berbagai industri lain mulai dari mobil listrik, smartphone, laser hingga penyulingan minyak. Jika industri militer AS lumpuh karena "permainan" rare earth China, maka keamanan nasional Washington juga terancam.

Indonesia Harus Mulai Kelolah Rare Earth

Dengan dilakukan pengembangan dan mencari Investor untuk diajak kerjasama mengelola rare earth, semoga bisa mengantarkan Indonesia menjadi negara Industri besar kedepannya. Untuk mencapai itu, tentu harus didukung dengan kebijakan dan pemetaan rencana yang matang dari hulu ke hilir, sehingga bisa memberi manfaat kepada masyarakat melalui berkembangnya penerimaan tenaga kerja dan dampak ekonomi lainnya.

Posting Komentar untuk "Potensi Rare Eart (Tanah Jarang) Indonesia, Jadi Peluang Memajukan Industri Teknologi Elektronik"

Berlangganan Artikel via Email