Kanal kami: rizensia ~ HYPE ~ OTO

Mengintip Strategi Emiten Batu Bara Menjadi Perusahaan Ramah Lingkungan

Sejumlah emiten pertambangan khususnya batu bara tengah melakukan berbagai macam strategi untuk tetap eksis diera peralihan energi ke energi hijau.

 Assalamu'allaikum.....

Emiten Batu bara
Emiten Batu bara

rizensia - Sejumlah emiten pertambangan khususnya batu bara tengah melakukan berbagai macam strategi untuk tetap eksis diera peralihan energi ke energi hijau. Setidaknya emiten-emiten ini sudah melakukan langkah kongkritnya agar perusahaan tak bergantung lagi ke pendapatan usaha dari batu bara dan PLTU.

Seperti yang dilakukan oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang melakukan transformasi untuk menjadi perusahaan energi dan kimia yang ramah lingkungan. Untuk mendukung langkah itu pihak PTBA menyatakan kesiapan pendanaan hingga Rp 60 triliun.

Direktur Utama Bukit Asam Suryo Eko Hadianto menjelaskan, hingga November 2021, Bukit Asam membukukan laba Rp 7 triliun atau angka tertinggi sepanjang Bukit Asam berdiri. Seiring perolehan laba tersebut, Ebitda Bukit Asam bisa menembus lebih dari Rp 10 triliun tahun ini. "Dengan Ebitda Rp 10 triliun, kami mampu meng-generate pendanaan hingga Rp 50-60 triliun," kata dia dalam acara Public Expose secara Virtual, Jumat (10/12) dikutip dari Investor Daily.

Menurut direktur PTBA dari kemampuan pendanaan itu, Bukit Asam tidak memiliki kekhawatiran untuk membiayai rencana transformasi ke depan. Adapun strategi yang dilakukan untuk mendukung target net zero emission (NZE) pada 2060 sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo dan meningkatkan kontribusi perusahaan dalam mendukung ketahanan energi nasional.

PTBA
PT Bukit Asam Tbk

Langkah pertama yang ditargetkan oleh Bukit Asam adalah menjadi perusahaan berbasis energi pada 2026. Pada tahun itu perusahaan ditargetkan bisa meraih pendapatan dari sektor energi sebesar 50% dan bisnis batu bara sebesar 50%.

Untuk mencapainya perusahaan akan meningkatkan portofolio pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan. Kemudian program hilirisasi batubara dan membangun chemical industri development.

Sementara untuk dua target terakhir, PTBA akan menyiapkan kawasan ekonomi khusus di Tanjung Enim, Sumatera Selatan sebagai area untuk pengembangan bisnis serta program manajemen karbon.


PT TBS Energi Utama Tbk
PT TBS Energi Utama Tbk

Lain PTBA, lain juga strategi yang dilakukan oleh perusahaan energi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), dimana mereka terus melakukan transformasi bisnis dari bisnis pertambangan ke bisnis energi terintegrasi.

Saat ini perusahaan yang terafiliasi dengan Opung Luhut Binsar Panjaitan ini tengah melangka untuk menjadi perusahan energi net zero carbon atau green company.

Tak tangung-tangung transformasi yang dilakukan oleh emiten ini, TOBA berkomitmen untuk menggelontorkan investasi sebesar US$ 500 juta dalam lima tahun kedepan untuk mencapai target mereka menjadi perusahaan hijau pada tahun 2030.

TOBA sendiri mempunyai beberapa lini bisnis tak hanya di usaha pertambangan batu bara, tapi TOBA juga mempunyai usaha di bidang pengelolaan minyak kelapa sawit melalui PT Perkebunan Kaltim Utama I dengan kapasitas 30 ton per jam.

Kemudian TOBA juga mempunyai lini bisnis di pembangkit listrik tenaga uap. Seperti PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP) denga kapasitas 2x50 megawatt (MW) di Provinsi Gorontalo, lalu PLTU di Sulawesi Utara dengan kapasitas 2x50 megawatt MW yang dioperasikan oleh PT Minahasa Cahaya Lestari.

Pada tahun 2018, TOBA juga mengakusisi 100% saham PT Batu Hitam Perkasa, yaitu perusahaan yang menghimpit kepemilikan 5% saham PT Paiton Energy. Paiton sendiri adalah perusahaan pembangkit listrik independen terbesar di Indonesia yang mengoperasikan tiga unit PLTU dengan kapasitas total 2.045 MW.

Akan tetapi demi memuluskan rencana TOBA menjadi perusahaan hijau, maka pada 19 Agustus 2021, TOBA melepas epemilikan 5% atas saham Paiton Energi kepada PT Medco Daya Energi. Penjualan saham ini sekaligus menandai evolusi TOBA dari bisnis pertambangan batu bara murni menjadi perusahaan energi terintegrasi dengan fokus utama pengembangan bisnis hijau dan bisnis energi bersih.

Selama proses menuju green company tersebut, TOBA akan mendaur ulang pendapatan dari bisnis yang telah berjalan. Pendapatan yang berasal dari keuntungan penjualan batubara, pembangkit listrik, dan divestasi PLTU akan di-recyvle ke dalam bisnis hijau di masa depan. 

Untuk langkah kongkrit dari usaha transformasi ini PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) melalui anak usaha PT Toba Bara Energi (TBAE) mengakusisi PT Adimitra Energi Hidro, yakni perusahaan yang mengembangkan pembangkit listrik tenaga hidro. Lalu, TOBA juga melakukan akusisi ke PT Bayu Alam Sejahtera (BAS), perusahaan yang berfokus pada pengembangan pembangkit listrik tenaga bayu.

TOBA juga melihat potensi kendaraan listrik terutama roda dua, dimana memiliki potensi kurang lebih 2,4 juta unit di 2030. Pengembangan ini dilakukan melalui skema kerjasama antara TOBA dengan Gojek melalui perusahaan patungan PT Karya Baru TBS dengan merek Electrum.

Investasi yang disiapkan pun sekita US$ 1 miliar atau sekitar Rp 17 triliun dalam lima tahun kedepan. Electrum nantinya akan mengembangkan bisnis di bidang manufaktur kendaraan listrik roda dua, teknologi pengemasan baterai, infrastruktur penukaran baterai, hingga pembiayaan untuk memiliki kendaraan listrik.



PT Adaro Energy Tbk
PT Adaro Energy Tbk

Adaro Energy juga tak mau ketinggalan dengan transformasi bisnis yang mulai beralih ke lini bisnis energi baru terbarukan. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) tengah merambah bisnis yang lebih ramah lingkungan, termasuk mengkaji potensi bisnis biomassa, solar panel, hingga hilirisasi batu bara menjadi hydrogen.

Presiden Direktur Adaro Energy Garibaldi Thohir mengatakan bahwa perseroan tengah menyiapkan satu pilar bisnis baru yang akan menjadi pilar kesembilan, yang saat ini masih disebut Adaro Green Initiative. 

Untuk diketahui, emiten berkode saham ADRO itu memiliki 8 pilar bisnis yaitu Adaro Mining, Adaro Services, Adaro Logistics, Adaro Power, Adaro Land, Adaro Water, Adaro Capital dan Adaro Foundation.

“Kami harus reform dan melakukan diversifikasi ke arah yang lebih green, terus lebih mensupport climate change. Untuk itulah, kami sekarang lagi terus membentuk pilar ke sembilan kami, yaitu Adaro Green Initiative,” ujar Garibaldi kepada media, Senin (19/4/2021) dikutip dari Bisnis.com.

Dia menjelaskan pengembangan biomassa di Indonesia sangat potensial. Sejumlah pembeli batu bara ADRO seperti Jepang, Korea Selatan, dan termasuk pelanggan domestik sudah mulai melakukan kombinasi batu bara dengan biomass sebagai salah satu upaya untuk menekan emisi.

Melalui pilar bisnis Adaro Power telah mempunyai pembangkit listrik dengan energi baru terbarukan seperti solar panel, angin, dan air. Akan tetapi ADRO lebih fokus ke pengembagan solar panel dan air.

Saat ini ADRO juga lebih serius melakukan rehabilitasi ekosistem yang telah dibangun perseroan di sekitar hauling road untuk mendapatkan carbon credit. Adapun, carbon credit tersebut nantinya bisa dijual atau cap and trade bagi perusahaan lain yang membutuhkan.

ADRO akan membuka peluang untuk mengembangkan hilirisasi batu bara menjadi hydrogen dan mengenjot progres kerjasama dengan Pertamina terkait produksi batu bara menjadi Dymethil Ether (DME). Dalam 10 tahun kedepan ADRO menilai bahwa bisnis batu bara masih akan solid, sehingga mereka tidak akan meninggalkan bisnis ini. Akan tetapi pilar bisnis baru juga akan menjadi komplimen kinerja Adaro kedepannya.


Itulah strategi emiten batu bara dalam melakukan transformasi bisnis mereka dari batu bara dan PLTU, menuju bisnis yang ramah lingkungan. Ketiga emiten ini begitu vokal dalam komitmen untuk memasuki bisnis hijau yang tengah di gaungkan oleh dunia.

Referensi:

  • https://investor.id/corporate-action/274095/ptba-anggarkan-rp-60-triliun-untuk-transformasinbspjadi-perusahaan-energi-ramah-lingkungan
  • http://www.apbi-icma.org/en/news/6062/transformasi-bisnis-tbs-energi-toba-dari-batubara-ke-ebt-hingga-motor-listrik
  • https://market.bisnis.com/read/20210419/192/1383218/adaro-adro-lebarkan-sayap-bisnis-siap-luncurkan-green-initiative
  • Email: [email protected]

    Posting Komentar

    Berikan komentar terbaikmu!




    © 2015 - rizensia| All rights reserved.
    Sahabat Investasi Kamu!
    Dukung!