Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

5 Brand Menggantikan Istilah Produk

Assalamu'allaikum....

rizensia - Dalam suatu usaha, kekuatan brand menjadi suatu senjata dalam kesuksesan suatu produk. Karena melalui merek yang kuat perusahaan dapat keuntungan yang berlipat-lipat.

Ilustrasi. Foto via Kompas

Keuntungan berlipat tersebut, seperti dalam pengelola aset-aset menjadi lebih baik, meningkatkan arus kas, memperluas pangsa pasar, menetapkan harga premium, mengurangi biaya promosi, meningkatkan penjualan, menjaga stabilitas, dan meningkatkan keunggulan kompetitif.

Ini yang dirasakan oleh beberapa produk berikut ini, karena merek dari produk mereka sangat kuat hingga istilah pada produk tergantikan. Berikut 5 brand menggantikan istilah produk yang dikutip dari Top Brand Award:

#1 AQUA

Siapa yang tidak kenal dengan brand air mineral yang satu ini? Sangking kuatnya brand produk ini mengalakan istilah produk AMDK (Air minum dalam kemasan).

Contohnya, Saat membeli AMDK diwarung, mungkin kamu secara tak sadar mengucapkan merek AQUA. "Bang, beli AQUA merek Le Mineral? atau "Bang beli AQUA..!" Tapi produk yang diberikan oleh penjaga warung berbeda.

Sejarah Aqua, awalnya didirikan oleh Pak Tirto Utomo pada tahun 1973 dengan pabrik pertamanya di Bekasi. Ide untuk membuat air mineral kemasan ini pada saat Tirto sedang bekerja di perusahaan Pertamina. 

Nama awal pabrik Aqua bukanlah Aqua, melainkan Golden Mississippi dengan kapasitas produksi 6 juta liter per tahun. AQUA Grup sendiri merupakan pelopor Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia dan kemudian pada akhirnya menjalin kemitraan strategis dengan Danone pada 1998.

#2 Chiki

Bagi sebagian daerah di Indonesia, ketika membeli makanan ringan atau snack pasti mengucapkan merek Chiki. Kekuatan merek chiki memang tak diragukan lagi, bahkan bagi beberapa Youtuber atau Artis Instagram dalam membahas produk makanan ringan pasti menggunakan nama chiki ketimbang menggunakan istilah makanan ringan atau snack.

#3 Indomie

"Bang..! Beli indomie sedap rasa soto, satu bungkus...!" Eddah... masa beli Indomie tapi maunya merek mie Sedap.?? Mungkin kejadian seperti ini sering terjadi, karena kekuatan brand dari produk milik Indofood. 

Produk Indomie yang pertama kali diperkenalkan adalah Indomie Kuah Rasa Kaldu Ayam yang saat itu sesuai dengan selera lidah masyarakat Indonesia. Kemudian pada 1982, penjualan produk Indomie mengalami peningkatan yang sangat signifikan dengan diluncurkannya varian Indomie Kuah Rasa Kari Ayam.

Indofood sebagai perusahaan yang memproduksi mie instan Indomie dan Supermie tak diragukan lagi, karena produknya begitu kuat dimasyarakat. Bahkan hal ini tak terjadi didalam negeri saja, tapi sampai di luar negeri Indomie menjadi plopor dari mie instan.

#4 Pempers

Beli popok bayi tapi bilangnya pempers, kebiasaan ini memang tak diragukan lagi sering terjadi dimasyarakat. Brand pempers begitu kuat, bahkan mengalakan istilah sesungguhnya yaitu popok bayi.

Pampers adalah sebuah nama merek produk bayi dan balita yang berasal dari Amerika Serikat. Merek tersebut dipasarkan oleh Procter & Gamble (P&G).

#5 Odol

Untuk wilayah Indonesia, produk pasta gigi ini tak ditemukan di pasaran. Dari sekian banyak merek pasta gigi di Indonesia, Odol adalah yang paling terngiang di kepala orang-orang Indonesia.

Padahal merek Odol sudah puluhan tahun tidak beredar lagi di Indonesia. Orang-orang lebih mudah menemukan Pepsodent, Close Up, Colgate atau yang lainnya di warung atau kios. Tapi tidak dengan merek Odol. Odol diingat karena distribusi penjualannya di masa-lalu hingga dikenal masyarakat Indonesia era kolonial dan beberapa tahun setelahnya.

Odol adalah merek milik perusahaan Jerman yang didirikan Karl August Lingner (1861-1916), yang bernama Dresden Chemical Laboratory Lingner. Menurut Helmut Obst dalam Karl August Lingner, ein Volkswohlt├Ąter? (2005), perusahaan itu didirikan pada 3 Oktober 1892.

Menurut David Carlo, dalam Advertising Empire: Race and Visual Culture in Imperial Germany (2011), tahun 1893, Odol tampil sebagai salah satu merek produk obat pembersih mulut Jerman. Dan, Ken Geiser dalam Chemicals Without Harm: Policies for a Sustainable World (2015) menyebut, pasta gigi bermerek Odol masuk pasar pada 1903. Kata Odol sendiri singkatan dari dua kata Yunani: odus (gigi) dan oleum (minyak) seperti dikutip dari tirto.id.

Posting Komentar untuk "5 Brand Menggantikan Istilah Produk"

Berlangganan Artikel via Email