Post Page Advertisement [Top]

Benarkah Sosial Media Buat Orang Indonesia Jadi Iri dan Frustasi??

Benarkah Sosial Media Buat Orang Indonesia Jadi Iri dan Frustasi??
Ilustrasi bermedia sosial. Foto via Techinasia Indonesia
Assalamu'allaikum.....

Rizensia.com - Sering berinteraksi dengan media sosial, membuat potensi para penggunanya rentan akan frustasi dan mudah iri terhadap orang lain.

Data ini adalah hasil dari sebuah penelitian yang berjudul "A Tool to Help or Harm? Online Social Media Use and Adult Mental Health in Indonesia" yang secara khusus menyoroti gangguan kesehatan mental akibat penggunaan media sosial di Indonesia.

Dalam penelitian tersebut mengatakan bahwa perasaan iri dan getir muncul akibat pengguna sering membanding-bandingkan kehidupannya dengan orang lain di medsos.

Sujarwoto, peneliti yang meriset masalah gangguan kesehatan mental akibat penggunaan media sosial secara berlebihan ini mengatakan, bahwa kecenderungan rasa iri yang timbul juga semakin tinggi mengingat lingkup media sosial yang lebih luas.

"Kalau dulu sebelum ada akses internet (komunikasi) hanya dengan tetangganya, keiriannya masih sama tetangganya. Nah sekarang kan lebih luas", jelas Sujarwoto ketika dihubungi KompasTekno melalui sambungan telepon, Senin (24/6/2019).

Kesenjangan sosial menjadi penyebab utama para pengguna medsos terpapar citra positif dan kebahagiaan dari teman-temannya yang memiliki strata sosial yang lebih baik.

Dari hal inilah, kemudian mereka membandingkannya dengan keadaan diri sendiri. Komparasi seperti ini menimbulkan perasaan kalah dan kehilangan.

Keriuhan menimbulkan rasa frustrasi

Bahkan beberapa penelitian terkait juga menyebut penggunaan media sosial secara berlebih bisa menghilangkan kepuasan akan hidup (syukur) dan menciptakan frustasi. Frustasi timbul karena media sosial yang terlalu riuh melihat kesenangan orang lain.

Apalagi, Indonesia masih dalam masa transisi demokrasi sehingga warganya kerap serampangan dalam memberikan komentar dan melempar opini di dunia maya. Keributan yang masif dan dikonsumsi secara terus-menerus inilah yang menimbulkan perasaan frustasi.

"Ditambah berita-berita yang tersebar di media sosial juga banyak berita negatif. Seperti kriminalitas, korupsi, dan sebagainya," jelas Sujarwoto yang meriset masalah ini bersama dua rekannya, Adi Cilik Pierawan dan Gindo Tampubolon seperti dikutip dari kompas.com

"Sedikit banyak, itu membuat pembaca merasa
depresi. Hal-hal itu perlu diperhatikan, kelihatannya tidak masalah tapi jika dibiarkan dalam jangka panjang akan jadi masalah," lanjutnya.

Dia menyarankan warganet Indonesia agar lebih bijak dalam mengatur waktu bermedia sosial.

Pemerintah juga bisa memberikan edukasi kepada masyarakat bagaimana menggunakan media sosial yang bijak dan memberikan penyuluhan pentingnya kesehatan mental.

Penelitian yang dimulai sejak tahun 2016 ini lebih spesifik meneliti penggunaan media sosial populer seperti WhatsApp, Facebook dan Twitter.

Data yang digunakan berasal dari Indonesia Family Survey (IFLS) pada tahun 2014 yang merepresentasikan 83 persen populasi di seluruh Indonesia.

Dari IFLS, diambil responden sejumlah 22.423 orang dewasa yang berusia di atas 20 tahun dari 9.987 rumah tangga.

Dalam penggunaan data dalam penelitian ini menggunakan data pada tahun 2014, dimana pada saat itu penggunaan media sosial tak seaktif dan setenar sekarang. Yang menjadi pertanyaan Rizensia "apalagi untuk tahun-tahun sekarang ini mungkin lebih parah lagi...??"

No comments:

Post a Comment

Berlangganan Artikel Kami:

Bottom Ad [Post Page]